Aku tidak secengeng dulu,saat awal-awal kamu baru saja
pergi. Aku sudah kebal dihantam rindu setiap kali teringatmu,terlebih ketika
melihat berpasang-pasang manusia memamerkan kemesraannya. Sering muncul
keraguan besar tentang pertanyaan-pertanyaan retoris,apakah kau masih
mencintaiku? Namun berbicara tentang batas,terkadang kita harus realistis,kan?
Kita harus melangkah maju untuk melanjutkan kehidupan. Tidak
terpaku pada satu titik yang membuat kita selalu menengok ke belakang dan
berdiri statis tanpa arah dan tujuan. Kamu harus memahami bahwa setiap
penantian membutuhkan jawaban atas segala kapan. Sebab kita tidak bisa memesan
kepastian pada waktu. Beberapa hal memang lebih baik tidak terjawab,dan yang
tidak terjawab pun kadang adalah sebuah jawaban. Detik selalu berpacu ke depan
dan aku tidak ingin berjalan mundur dan tertinggal jauh,lalu terjebak dalam
muara kesedihan yang mengorbankan kebahagiaan.
Jadi,aku memilih dan memutuskan untuk melangkahkan kakiku ke
depan. Meninggalkan satu per satu hal yang berkorelasi dengan kita. Meninggalkan
kenangan indah dan rencana masa depan dengan yang dahulu kita diskusikan.
O iya,ada seseorang yang telah lama mendobrak pintu hatiku
secara paksa dan menyadarkanku bahwa kamu bukanlah lagi seseorang yang
sama,yang mencintaiku,atau setidaknya mengenal siapa aku. Sungguh,aku sangat
menyesal seandainya dulu aku berusaha keras mencegah mu untuk pergi,kamu pasti
tidak tertimpa musibah pelik yang membuat kehilangan kita,ingatanmu dan
menjadikan mu seseorang yang lain. Mungkin inilah yang memang sudah seharusnya
ku terima dengan ikhlas sepenuh jiwa.
Kamu pasti tidak tahu seseorang itu. Namun ialah yang
berjasa membuka mata dan menyembuhkan tekanan batin yang memprakarsaiku melawan fakta. Cintaku padamu begitu hebat
hingga nyaris merenggut kewarasanku. Cintanya padaku juga tak kalah hebat dan
kuat,sampai orang-orang yang menyebutku gila pun ikut mengiranya gila. Sebuah kelucuan
yang irosnis,kan? Pada akhirnya aku dan dia bisa saling mencintai meski dia
rela menjadi pelabuhan ku dikala aku merasa rapuh oleh seseorang yang bahkan
dengan jelas telah menyia-nyiakan perasaanku yang begitu hebatnya menjaga
dengan baik. –R.J.K-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar