Minggu, 11 September 2016

Origami Hati yang Baru

       Tak pernah aku membayankannya bila insan sedang patah hati. Kali ini ku rasakan seseungguhnya,siang hari ku baaikan malam,pelangiku berwarnakan kelam. Inikah yang dinamakan patah hati? Yang aku tahu cinta itu indah,bukan seperti ini yang menyiksaku dengan akhir yang sangat menusuk relung hatiku. Tinggi angan menjulang diatas semua harapku yang utuh menjalin sebuah kisah kasih yang diharapkan hanya ada 2 kursi diteras rumah hati ini. Namun ternyata aku salah,seorang insan telah melukai hati ini yang membuat satu kursi patah dengan kedatangan kursi baru diteras rumah yang kita bangun berdua. 
      
       Pagi itu dengan suasana yang mendukung,aku mendapatkan sebuah pesan dari seseorang yang membuat hariku menjadi lebih berwarna. Aku hanya perempuan biasa yang punya rasa sakit karena cinta,dingin sepi kerap menyapa air mata jatuh tepisan raga,yang mencoba tegar bagaikan karang dilautan,dan rapuh lemah kian merana. Lemas ku membaca pesan darinya,yan membaca pesannya kedua mataku,namun yang bergetar tetap saja hatiku. Selalu ku mencoba menjaga baik hati ini disetiap hubungan jalinan ksih yang ku jalani. Selalu saja aku yang menjadi korbannya,dia berjanji untuk tidak meninggalkan ku. Namun kini,dia meminta waktu break untuk membenahi dirinya agar lebi tenang. 

      Mata rantai yang selalu ku tatapnya dengan penuh kebahagiaan,kini terdapat sebuah bendungan yang membudal keluar membasahi pipi dengan deras nya mengalir tanpa henti. Aku yang mencoba tegar dengan menerima keputusannya,telah ku mencoba untuk mempertahankan tanpa waktu break,namun ia menginginkan waktu untuk menyendiri. Memang disebuah hubungan untuk kedatangan rasa bosan dan jenuh itu adalah yang wajar,tak bisa menolak untuk hadirnyasosok itu. Sosok mereka itu yang mencoba menguji keberadaan kita yang berhasil berada dipuncak. Tap ternyata aku kalah dengan berada di atas,seorang insan yang menghadirkan sosok ke 3 dan dia berjanji untuk tidak menghadirkan sudut pandang orang ketiga ternyata ingkar. Deg,perasaanku sakit. Aku yang hanya mampu menunggu dia pulang dengan memberikan pelukan dan bukan kata-kata rindu untuk menikmati rinduku padanya,aku yang digantung dengan ketidakpastian sebuah hubungan antara lanjut dan stop dalam kata break mencoba bertahan karena aku tahu,rasa ku ini terlanjur menyayanginya. 
      Tak mudah bagiku untuk mengenal lagi seorang lelaki,yang mencoba beradaptasi dengan rasa sayang kembali. Sungguh aku tidak bisa melakukan hal itu,hatiku masih milikmu. Ku sadari kau berpaling dari cinta ini,aku rasa cinta tak berguna,ingin ku pergi tapi tak bisa karena hatiku masih milikmu. Harusnya engkau mengerti sakitnya dikhianati,ku tak pernah bisa membayangkan hari-hari tanpamu yang setiap hari aku harus melihatmu dilingkungan sekolah yang kini kenyataannya aku tidak lagi milikmu dalam kepastian hubungan karena posisi hubungan kita dalam status break. Kau yang menjajikan untuk pulang kembali setelah semua tenang,aku yang se-tia menunggumu pulang dengan pelukan hangat yang akan kau nikmati.
       Bila hatiku telah memilih aku tak bisa berdalih,cintaku tak bisa berhenti padamu setiap hari. Cintaku malahan bertambah. Cepatlah kembali dan benahi hati lagi,benahi origami hati yang telah kita buat dengan seksama yang selama ini kita jalani. Kau yang selalu aku nanti takkan terganti disinggasana hati ini,tetap singgasana ini untuk kuncen hatiku,yaitu k a m u sebagai pemenangnya.

#Aku yang kehilangan senyumku cukup kali ini saja aku merasakan sakitnya kehilanganmu,tidak untuk kedua kalinya. Usai disini saja ku kehilanganmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar